Hal pertama yang harus diketahui oleh seorang mentalis adalah bahwa ada perbedaan nyata antara pertunjukkan mentalis dan pertunjukkan sulap. Meski metode dan alat peraga yang mereka bawakan seringkali memiliki kemiripan, seorang metalis mampu memanfaatkan teknik-teknik psikologis tertentu yang tidak bisa dilakukan oleh pesulap.
Sudah merupakan fakta bahwa saat kita bicara pada seseorang, orang tersebut akan memperhatikan wajah kita. Apa bila kita adalah seorang orator (ahli pidato) atau seorang komedian, kondisi seperti ini hampir selalu benar adanya karena tak ada alasan lain untuk memalingkan wajah.
Tidak begitu halnya bagi seorang pesulap. Orang tahu di awal bahwa pesulap melakukan trik, dan setiap orang membayangkan bahwa mereka mungkin melihat “bagaimana cara melakukannya” jika mereka melihatnya dari dekat, perhatian mereka akan tertuju antara wajah dan tangan si pesulap (atau khususnya bagaimana alat peraga digunakan). Oleh karenanya, seorang pesulap akan memanfaatkan salah arah untuk memastikan bahwa perhatian diarahkan secara benar.
Jika seorang pesulap memasukkan permainan mental dalam pertunjukkan mereka, hal yang sama pun diterapkan. Meski dia mungkin menyatakan akan mendemontrasikan suatu fenomena pikira, para penonton sudah terkondis untuk tidak mempercayai segala sesuatu yang dikatakan pesulap dan akan terus mencari trik-trik yang digunakan.
Oleh karenanya, sangat beralasan jika seorang penonton mempunyai alasan untuk bersikap curiga bahwa pelaku pertunjukkan memperlihatkan sulap atau tipuan sulap”, kata-kata dan perbuatannya akan menjadi bahan penelitian ketimbang yang dilakukan oleh seorang ahli pidato.
Itulah sebabnya para mentalis bisa secara efektif memanfaatkan metode-metode yang akan secara transparan terlihat kasar dan nyata jika digunakan oleh seorang pesulap. Seorang mentalis harus mempunyai sesuatu yang “LUAR BIASA”.
Demi menyaksikan seorang mentalis yang secara total mampu menarik perhatian penonton hanya dengan efek sederhana, beberapa pesulap yang kurang berlatih seringkali memaksanakan diri untuk memasuki “ranah mentalisme”. Tak ada ketrampilan psikis untuk secara akurat memprediksikan apa yang akan terjadi jika mereka mengelabuhi diri mereka sendiri terhadap penonton yang tidak merasa curiga.
1. MAKNA DI BALIK MENTALISME
Pertunjukkan mentalisme pada dasarnya merupakan seni mempertunjukkan efek-efek yang nampaknya di luar nalar dalam suatu pertunjukkan. inti dari pertunjukan mentalisme ini terletak pada kemampuan pelaku untuk mengatasi rasa tidak percaya penontonnya. Sayangnya, dalam soal psikis dan fenomena paranormal lainnya, sudah ada keyakinan mendalam. Tetapi, merupakan kesalahan besar untuk beranggapan bahwa penerimaan masyarakat secara sederhana terhadap kemungkinan ESP cukup untuk melakukan suatu pertunjukkan mentalisme yang sukses. Pandangan seperti ini menjadi penyebab banyaknya kegagalan pertunjukkan. Dan hal itu banyak terjadi dewasa ini.
Kalau begitu, hal apakah yang mampu menjadikan suatu pertunjukkan itu bagus ? Tentu saja ada banyak faktor, tetapi hal utamanya adalah pertunjukkan itu harus menghibur. Siapa saja yang berpikir sebaliknya dan berani mempertontonkan suatu pertunjukkan yang dibuat-buat merupakan perbuatan yang bodoh dan egoistis. Jika seorang pelaku pertunjukkan merasa pertunjukkan efek mentalnya akan menyebabkan penonton duduk terkagum-kagum dengan keahliannya, ia salah besar.
Sesungguhnya, nilai hiburan sendiri tidak menghasilkan suatu pertunjukkan mental. Tetapi, sulitlah menghibur jika pesulap tidak suka Anda atau apa saja yang Anda lakukan. Jadi, kita tiba pada aturan sederhana yang harus Anda lakukan sekuat tenaga agar Anda disukai. Banyak mentalis dewasa ini berusaha mempertunjukkan suatu imagi bertipe superman (serba bisa). Hal seperti itu untuk sementara membuat orang ternganga, tetapi untuk seterusnya mereka akan meninggalkannya. Para penonton mungkin suka menonton pertunjukkan tipu-tipu sekali waktu, tetapi mereka melakukannya hanya untuk melongo, bukannya untuk berinteraksi. Jika seorang mentalis tidak mampu untuk mengajak penonton berinteraksi, misalnya ikut berpartisipasi secara sukarela, ia gagal melakukan pertunjukkan.
Aturan Dasar dan Petunjuk Demontrasi Mentalis :
1. Jangan pernah gunakan property yang biasa anda beli di toko-toko sulap karena orang akan berasumsi anda seorang pesulap. Apa bila memang membutuhkan property usahakan properti itu adalah alat-alat yang biasa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari yang memang bukan alat sulap, misalnya alat-alat tulis perkantoran seperti spidol, penjepit kertas atau yang lainnya.
2. Jangan terlalu banyak menggunakan property, pelaku pertunjukanlah yang harus mendominasi pertunjukan.
3. Hindari pengaruh yang meminta penonton menghitung soal matematika yang rumit (gunakan operasional matematika yang sederhana), menghitung baris sebuah buku, dll. Buatlah segala sesuatunya dengan sangat sederhana.
4. Sesuaikan antar perkataan dan perbuatan yang ingin anda lakukan. Usahakan untuk penonton dapat meng-iya-kan atau mem-benar-kan segala sesuatu yang anda katakan atau lakukan.
5. Gunakan humor seefektif mungkin.
6. Pastikan anda bisa dilihat dan didengar dari semua sudut dan jarak.
7. Pertunjukan harus mempunyai Tema.
8. Mempunyai pribadi yang menyenangkan dan tidak membosankan.
Berapa kali Anda mendengar orang mengeluh “Sepertinya saya tidak bisa meminta penonton untuk ikut berpartisipasi?” Orang yang punya masalah seperti itu sebaiknya memperhatikan diri sendiri. Apakah mereka mempunyai kepribadian yang disukai, atau apakah mereka melakukan pose yang mengancam penontonnya? Atau lebih buruknya lagi, apakah ia terlalu kuat sehingga orang lain tidak ingin terlihat bersama mereka?
Dan itulah salah satu alasannya pertunjukkan mentalisme sulit dilakukan. membaca pikiran orang lain secara inheren mengancam orang lain. Coba pertimbangkan, apakah orang benar-benar ingin pikiran mereka terbaca? Apa Anda mau pikiran Anda terbaca? Coba bayangkan jika Anda benar-benar mampu membaca pikiran orang lai dan mengungkapkannya. Menurut Anda, apa merak akan menyukai Anda? Apa Anda pikir mereka akan bersuka rela sekali mereka yakin bahwa Anda benar-benar mampu melakukannya? Tentu saja tidak. Mereka akan menjauhi Anda secepatnya, atau bakan mereka akan membunuh Anda. tetapi sebagai seorang mentalis Anda tidak bisa berhenti begitu saja dan bilang Anda hanya melakukan trik saja. Jika demikian, maka pertunjukka hanya semata permainan puzzle saja. Kepuasaan dari dalam pun menghilang.
Penyelesaiannya sederhana saja, Anda cukup menciptakan kesan bahwa Anda melakukannya tidak setiap saat, bahwa hal itu tidak selalu berhasil, bahwa itu bukanlah pikiran yang Anda baca, melainkan pemikiran yang dinyatakan secara jelas oleh seorang sukarelawan. itulah sebabnya mereka harus menuliskan segala sesuatunya, atau melakukan pilihan di antara opsi yang sudah jelas-jelas ditentukan. Dalam satu sentakan, Anda telah berhasil menghilangkan satu ancaman sekaligus menjadikan rahasia mentalisnya dimungkinkan dan masuk akal.
Mengatasi Penonton
Masalah terbesar pelaku pertunjukan terkait dengan seting tempat. Oleh karenanya, setiap pelaku pertunjukan sebaiknya membiasakan diri terlebih dahulu dengan tempat yang akan dipakainya. Selain masalah tempat, yang perlu diperhatikan adalah orang-orang yang terlibat dalam pertunjukan itu. Apakah mereka memahami petunjuk-pertunjukan yang anda berikan. Jika belum, anda masih punya waktu untuk memberikan penjelasan lebih dalam.
Masalah berikutnya adalah penonton. Seorang pelaku pertunjukan harus benar-benar memperhatikan penonton dimana mereka duduk dan apa yang akan anda lakukan terhadap mereka yang duduk di bangku depan. dengan mengunjungi terlebih dahulu tempat pertunjukan kita dapat memperkirakan seperti apa penontonnya nanti. Sehingga jika nantinya muncul masalah-masalah yang tak terduga ia bisa melakukan tindakan untuk mengatasinya.
Selama Pertunjukan anda harus benar-benar bagus diiringi oleh bahan pertunjukan yang kuat dan langsung. Pertunjukan di awal haruslah menarik perhatian. jika tindakan buruk dan lambat, pertunjukan akan membuat penonton mengalihkan perhatian mereka. jika anda memanfaatkan humor pastikan humornya yang terbaru dan jangan Jayus.
Labels:
Mentalism
SUARA
Penguasaan suara dalam pertunjukan mentalism pada dasarnya adalah penguasaan diri secara utuh, karena kedudukan suara dalam hal ini hanyalah merupakan salah satu alat ekspresi dan totalitas diri kita sebagai seorang mentalist. Pengertian ‘penguasaan diti secara utuh’ menuntut suatu keseimbangan seluruh aspek serta alat-alatnya, baik yang menyangkut kegiatan indrawi, perasaan, pikiran atau yang bisa disebut segi-segi dalam dari pertunjukan mentalism, maupun yang menyangkut segi-segi luarnya seperti tubuh dan suara. Ketimpangan akan menghasilkan ketimpangan.
Olah Vokal
Vokal (Suara) dan Speech (ucapan) amatlah penting di dalam sebuah pementasan sebuah pertunjukan mentalism, menurut MAURIZE ZOLOTOV merupakan bagian dari isyarat ataupun symbol, menurutnya ada kalimat Emosional untuk menyatakan perasaan dan ada pula kata-kata yang dapat digunakan sebagai senjata mencapai kekuatan.
Pernapasan Diafragma
Otot-otot akan berkembang dan menegang ketika kita menghisap napas, hanya bagian inilah yang tegang. Kemudian otot-otot samping bagian punggung pun ikut pula mengembang lalu mengempis saat napas dihembuskan kembali.
Posisi diafragma adalah diantara rongga dada dan rongga perut. Pernapasan melalui diafragma inilah yang dirasakan paling menguntukan dalam berolah vocal, sebab tidak mengakibatkan ketegangan pada peralatan pernapasandan peralatan suara dan juga mempunyai cukup daya untuk pembentukan volume suara. Keuntungan lain yang diperoleh adalah pada saat kita menahan napas otot-otot diafragma tersebut tegang, ketegangan otot ini justru melindungi bagian lemah badan kita yakni ulu hati. Pernapasan ini sangat baik dalam usaha menghimpun “tanaga dalam” yang mengolah vibrasi, karena pernapasan diafragma akan memudahkan kita dalam mengendalikan dan mengatur penggunaan pernapasan.
Berlatih pernapasan banyak ragam dan caranya. Latihan pernapasan bisa dilakukan dengan berbagai cara, dari cabang-cabang beladiri seperti pencak silat, karate, atau berenang sekalipun. Namun ada beberapa catatan penting yang harus dilakukan untuk tujuan pernapasan bagi seorang mentalist, yaitu:
Latihan 1.
• Berbaring rata di lantai dan bernapaslah pada posisi tersebut, rasakan tubuh betul-betul rileks.
• Berbaring dilantai, rasakan daya beratnya, pusatkan pikiran kea rah telapak kaki kita, ke ujung-ujung jari, rasakan seluruh pergelangan kaki terlepas. Bayangkan seluruh nadi terisi udara, engsel-engsel lututpun terisi udara biarkanlah tulang paha kita rileks sehingga daging dan otot-otot menjadi satu dengan tulang-tulang. Bayangkan sendi-sendi pinggang dan tuang paha berisi udara sehingga seluruh tubuh tidak lagi memberatkan kaki. Biarkan otot punggung dan perut kita meleleh seperti air, biarkan punggung rileks dan tidak usah memaksakan tulang punggung menjadi rata, biarkan otot-otot seluruh tubuh dan kepala sampai rahang di samping telinga kita rileks hingga gigi kita tidak terkunci juga lidah tidaklah lengket pada bagian atas mulut, rahang menjadi seperti jatuh demikian juga dengan lidah yang tidak saling menyentuh. Biarkan wajah kita terasa berat pada tulang tulang wajah, biarkan pipi, bibir, pelupuk mata seluruhnya rileks.
• Rasakan tubuh kita di lantai melorot rileks tariklah napas secara penuh untuk merasakan sensasi-sensasi yang terjadi pada tubuh kita saat di lantai akibat pernapasan yang alami itu. Ulangi itu terus menerus dengan intens.
Latihan 2
• Waspadai bahwa ditengah kediaman tubuh kita yang rileks itu akan tidak terelakan sebuah kondisi yang mudah untuk jatuh apabila napas keluar dan masuk dari tubuh, rileks bukan berarti tidak ada control terhadap tubuh namun control sering kali membuat kita justru menjadi tegang, jadi pernapasan yang berlangsung alami adalah citra dari rileks itu sendiri.
• Tariklah napas secara mendalam tanpa paksaan, simpanlah tangan di pundak untuk merasakan dorongan napas pada diafragma.
• Pada saat udara masuk ke dalam tubuh dan terhisap oleh mulut atau hidung, masuk ke pusat dan keluar kembali, senantiasa merasakan kehangatan udara di dalam tubuh dan dinginnya udara yang kita hisap tersebut.
• Pada saat merasakan udara yang masuk kedalam tubuh ksenantiasa melakukan penghayatan pada udara tersebut, rasakan rasa lega yang mendalam di dalam tubuh lalu hayatilah udara turun keperut dengan emosi yang selalu terjaga (konsentrasi).
• Ulangi dorongan kausalitas tersebut dengan latihan yang intensif, emosi terjaga, selalu merasakan bahwa saat latihan kita adalah bagian alam semesta ini.
• Hal yang paling penting adalah menghindari ketegangan-ketegangan, biarkan seluruhnya bergerak secara alami dan teratur
Menurut Henning Nelms tentang speech ada lima :
1. Menyalurkan kata-kata mentalist kepada penonton.
2. Memberi arti-arti khusus pada kata-kata tertentu melalui odulasi suara.
3. Memuat informasi tentang sifat dan perasaaan – pemeranan missal : Tentang umur, kedudukan social, jabatan, kegembiraan, putus asa, kemarahan.
4. Mengendalikan perasaan penonton.
5. Melengkapi variasi.
Tahap Pertama
Pada tahap pertama pada latihan olah vokal , hisap lah udara sebanyak-banyaknya lalu tahan, kemudian hembuskan sambil mengeluarkan suara. Ini dilakukan berulang-berulang.
Tahap Kedua.
Hisap udara melalui melalui dada salurkan ke Rongga dada hisap udara melalui perut, lalu tahan salurkan ke rongga Dada, keluarkan melalui mulut. Sebaliknya dapat dilakukan dengan sebaliknya, apabila tahap sudah dapat dilakukan bisa dilakukan dengan memainkan variasi pernapasan.
Tahap ketiga
Pada tahap ini lakukan laatihan dengan menahan napas sambil berjalan, berlari ini dilakukan berulang kali.
Tahap keempat.
Bernapas di dalam air, dengan menahan beberapa saat lalu di hembuskan dengan melalui teriakan.
Latihan olah vokal melalui latihan speech (ucapan)
1. Diksi
Ucapan, lafal, menentukan suara yang harus dipergunakan. Diksi, lagu (gaya) berata, memberi kualitas kejelasan suara dari sebuah kata yang diucapkan. Latih aga dapat membedakan dengan jelas membedakan antara huruf-huruf p dengan b, t dengan d, k dengan g.
Cobalah :
1. p----- p----- p------
pp---- pp---- pp-----
ppp-- ppp-- ppp----
pppp- pppp- pppp—
ppppp bbbbb ppppp
2. b----- b----- b------
bb---- bb---- bb-----
bbb-- bbb-- bbb----
bbbb- bbbb- bbbb—
bbbbb ppppp bbbbb
(tanda garis hubung merupakan ketukan jarak)
Ulang-ulangilah latihan ini. Akan sangat efektif bila dilakukan secara rutin tiap pagi atau sore. Tidak usah lama. Cukup barang sepuluh atau lima belas menit saja.
Coba pula pada huruf-huruf yang lain dengan cara yang sama, hingga semua dapat jelas terbedakan. Gerakan bibir merupakan sesuatu yang amat penting bagi pengucapan yang jelas. Untuk memperoleh hal itu maka gerazkan bibir sebanyak mungkin. Aktifkan gerakan bibir.
2. Tekanan
Tekanan dicapai dengan kontras. Suatu kata dapat diberi tekanan dengan mengubah tempo dan volumenya. Tempo sangatlah penting artinya. Tempo yang terlalu cepat hanya memberi kesan suara ribut. Saja. Kehilangan kandungan makna yang akan disampaikan Kebiasaan bicara cepat itu bisa dihilangkan dengan berlatih membiasakan ucapan-ucapan lambat. Mula – mula mengucapkan serentetan kata atau atau kalimat hanya dengan gerakan bibir saja, lambat tanpa bersuara. Sesudah itu dengan bersuara. Demikian berulang-ulang dilakukan.
Kata dapat diberi tekanan dengan merendahkan volume. Misalnya mengucapkan kata dengan lemah dalam saaatu kalimat yang nyaring. Belajarlah memberi tekanan pada suatu kata dengan memberi sedikit jeda sebelum dan sesudahnya.
Perubahan dalam pikiran dapat diperlihatkan dengan jeda atau dengan perubahan tiba-tia pada nada serta volumenya.
Napas yang keluar melalui Trachea sesampainya pada larynx akan menggetarkan pita suara, dank arena getaran itu timbulah suara. Namun demikian suara tersebut baru akan terdengar baik bilamana terlah beresonansi pada salah satu resonator, baik rongga mulut, rongga hidung atau rongga dada. Misalnya, kalau bentuk rongga mulut bulat maka suara yang diproduksinya akan bulat pula, tetapi kalau rongga mulut ditarik melebar kesamping maka suara yang diproduksi akan terdengar ‘cempreng’. Seorang aktor harus lebih menekankan pemberian karakter pada suaranya. Mengolah texture dan warna suara yang sesuai dengan peran yang dimainkannya.
Seorang mentalist juga harus bisa mengolah beberapa warna vokal sesuai tuntutan pertunjukan, seperti:
• Menaikkan dan menurunkan volume suara.
• Meninggikan dan merendahkan frekwensi nada bicara.
• Mengatur atau mengolah tempo pengucapan.
• Mengatur atau mengolah warna dan texture suara.
Latihan 1:
• Tariklah napas dan keluarkan seperti angina.
• Tariklah napas dan keluarkan seperti suara angina itu sendiri, rasakan efek napas tersebut pada langit-langit atas mulut, lidah dan pembentukannya.
• Tariklah napas dan keluarkan dengan suara seperti seolah sedang berbisik, rasakan bagaimana kandungan napas dan suara yang keluar.
• Tariklah napas dan keluarkan dengan teks dan seolah suara itu menyerupai angina.
• Seluruh latihan ini dilakukan secara alami dan intens.
Latihan 2 :
• Tariklah napas dan keluarkan seperti suara binatang berkaki empat (bayangkan harimau, ajah, anjing, kucing dan lain sebainya).
• Tariklah napas dan keluarkan seperti suara jenis unggas (bayangkan menjadi burung, ayam, bebek, dan lain sebagainya).
• Seluruh latihan ini dilakukan secara alami dan intens.
Latihan 3 :
• Cobalah kata-kata apa saja dari mulut.
• Cobalah berdialog improvisasi aa saja keluar dari mulut.
• Cobalah baca beberapa teks lakukan dengan alami dan bertahap lewat vibrasi yang volumenya di tambah.
• Lakukan observasi suara manusia dan tirulah laku perannya (how old I am: rasakan sensasi-sensasi usia yang ditiru pada teknik suara).
• Cobalah acting dengan teks.
• Hindari ketegangan-ketegangan.
Berikut ini catatan-catatan yang dibuat oleh Frans Marajinen dari “Institut des Arts Spectaculaires” (INSAS) di Brussell selama kursus yang diadakan oleh Jerzy Grotowsky dan sahabatnya, Ryszard Cieslak, pada tahun 1966.
Dengan membandingkan latihan-latihan tahun 1959-1962, memang ada perubahan yang dapat dicatat yakni dalam orientasi dan objek latihan yang merupakan hasil kerja beberapa tahun sebelumnya.
Dengan semboyan: “Inti pertunjuan mentalism adalah mentalist, perbuatan-perbuatannya, dan apa yang dapat ia capai”. Skema pelajarannya dan pelbagai macam latihan adalah didasari atas pengalaman secara metodik menuju kepada teknik-teknik pertunjukan mentalism dan kehadirannya secara fisik di atas panggung.
3. Bentuk Ucapan
Suatu ucapan Panjang atau pendek umumnya membangun klimaks, maka dari permulaan dibangunlah : (1) volume, (2) intensitas emosi, (3) variasi, (4) jarak, kecepatan.
Membangun satu unsure dari keempat unsure di atas secara teknis amatlah sulit. Biasanya baik membangun dengan satu unsure, lalu beralih pada yang lain, atau membangun dalam dua atau tiga unsure sekaligus.
Untuk dapat berartikulasi dengan baik, dibutuhkan kelenturan alat-alat pengucapan. Artikulasi yang baik, akan dapat dicapai dengan menempatkan posisi yang wajar tetapi dengan penggunaan tenaga efektif dan terkontrol.
Alat-alat tersebut antara lain:
A. Bibir
Sangat berperan dalam membentuk huruf-huruf hidup dan huruf M-B-P. Latihan dengan membentuk mulut dengan ruang gerak yang maksimal, otot bibir berulang membentuk bunyi U-A-U-I-U-A-O-E. Pada saat menyuarakan huruf u bibir dibentuk mengkerucut tarik semaksimal mungkin kedepan. Pada bentuk O, bibir membuat bulatan dan jangan lupa tarik bibir kearah depan tetap diperhatikan. Pada bunyi A, bibir seolah pada posisi menguap membentuk lonjong maksimal. Pada bentuk bunyi I, bibir seolah ditarik pipi ke samping sehingga mulut nampak pipih. Lakukan latihan ini berulang-ulang mulai dengan tempo membentuk lambing-lambang bunyi, percepatan temponya semakin cepat dan cepat lagi. Lakukan latihan dengan menyuarakan gabungan huruf mati dengan huruf diatas, menjadi MU-BA-PU-MI-BU-PA-MO-BE berulang-ulang dari lambat ke sedang dan cepat. Lakukan dengan diiringi latihan dan pernapasan.
B. Lidah
Lidah sangat berperan dalam membentuk bunyi huruf-huruf mati seperti C-D-L-N-R-S-T dan lainnya. Lidah yang lincah akan dapat menentukan pembentukan lafal yang baik, tepat dan jelas. Latihan-latihan dimaksud untuk mencapai tingkat kelenturan sehingga lidah tidak saja lemas dan lincah tetapi juga mempunyai kemampuan seseorang yang mengalami kesulitan dalam membentuk bunyi R dan T. Latihan lidah:
• Menjulurkan dan menaril lidah berulang-ulang
• Menjulurkan dan menarik ke atas => bawah, samping kanan => kiri dan kemudian menjulurkannya untuk membuat gerakan berupa lingkaran.
• Tempelkan ujung pada gigi seriates lalu dorong lidah keluar, tempelkan ujung lidah pada gigi serri bawah lalu doronglah lidah keluar, lakukan berulang-ulang.
• Tutup mulut lalu bunyikan Bberrrrrrrrrrrrrrr, Trerrrrrrrrrrrr.
C. Rahang
Membantu pembentukan rongga mulut.
Lakukan latihan-latihan seperti ini:
• Tutup dan buka mulut selebar mungkin, berulang-ulang.
• Doronglah rahang bawah ke muka lalu buka ke bawah lalu tarik kea rah dalam atau leher lalu tutup mulut, rahang rapat, dorong ke muka kembali dan lakukan seterusnya berulang-ulang semakin cepat.
• Gerakan rahang bawah ke kanan dan kiri.
• Buat lingkaran dengan rahang arah bergantian ke kanan dan ke kiri.
• Ucapkan dalam satu helaan napas hitung berapa pengulangan bunyi: wawawawawawawawa, yayayayayayayayayaya
D. Langit-langit
Terdiri dari langit-langit keras dan langit-langit lunak, merupakan bagian penting dalam pembentukan suara maupun pengucapan. Selain itu, langit-langit berperan juga sebagai dinding resonator pada rongga mulut. Latihan:
• Tutup mulut berbuatlah seakan-akan anda sedang berkumur, buka rahang bawah tetapi bibir tetap rapat, tekan langit-langit ke atas dank ke bawah pula.
• Tutup mulut dalam keadaan rapat, kemudian lakukan seolah anda mengucapkan bunyi M, B, K, N, NG, D, dan lainnya. Saat melakukan ini dapat dirasakan langit-langit bergerak ke atas dan ke bawah.Setelah seluruhnya peralatan pernapasan dan peralatan pengucapan kita latih dengan baik, barulah kita mencoba dengan membaca dialog. Bacalah dengan volume yang sedang dan rasakann pula dorongan napas diafragma, arahkan pembentukan suara ke resonator yang dirasakan paling tepat. Misalnya ke rongga resonator dada, mulut atau hidung.
Labels:
Mentalism
TUBUH
Menjadi konsekwensi logis bagi seorang mentalis untuk mengusai tubuh dan suaranya sebagi modal dasar dalam mempertunjuakn aksi mentalism baik di panggung (tage atau parlor) maupun secara jarak dekat (close up) dengan audiancenya.
1. Relaksasi
Realaksasi adalah hal pertama yang haru dilakukan dengan cara menerima keberadaan dirinya. Relaksasi bukan berarti berada dalam keadaan pasif (santai) tetapi keadaan dimana semua kekangan yang ada di tubuh terlepas.
Salah satu masalah yang sering dihadapi oleh mentalist adalah kebutuhan untuk relaksasi. Baik itu di dalam latihan, di atas panggung, maupun paska pertunjukan. Relaksasi adalah hal yang sangat penting bagi semua performer. Relaksasi bukanlah keadaan mental dan fisik yang tidak aktif, melainkan keadaan yang cukup aktif dan positif. Ini memungkinkan seorang mentalist untuk mengekspresikan dirinya saat masih didalam kontrol faktor-faktor lain yang bekerja melawan cara pengekspresian karakter yang baik. Jadi, relaksasi adalah hal yang penting dalam upaya mencapai tujuan utama dari seorang performer.
Segala sesuatu yang mengalihkan perhatian ataupun yang mencampuri konsentrasi seorang mentalist atas sebuah karakter, cenderung dapat merusak relaksasi. Mentalist pemula biasanya tidak dapat dengan mudah merespons sebuah perintah untuk relak, hal ini disebabkan berkaitan dengan aspek-aspek fisik kepekaan dan emosi ketika berada dihadapan penonton. Dengan kata lain, dalam keadaan rileks, mentalist akan menunggu dengan tenang dan sadar dalam mengambil tempat dan melakukan aksinya. Untuk mencapai relaksasi atau mencapai kondisi kontrol mental maupun fisik diatas panggung, konsentrasi adalah tujuan utama. Ada korelasi yang sangat dekat antara pikiran dan tubuh. Seorang mentalist harus dapat mengontrol tubuhnya setiap saat dengan pengertian atas tubuh dan alasan bagi perilakunya. Langkah awal untuk menjadi seorang mentalist yang cakap adalah sadar dan mampu menggunakan tubuhnya dengan efisien.
2. Ekspresi
Kemampuan Ekspresi merupakan pelajaran pertama untuk seorang mentalist, dimana ia berusaha untuk mengenal dirinya sendiri. Si mentalist akan berusaha meraih ke dalam dirinya dan menciptakan perasaan-perasaan yang dimilikinya, agar mencapai kepekaan respons terhadap segala sesuatu. Kemampuan ekspresi menuntut teknik-teknik penguasaan tubuh seperti relaksasi, konsentrasi, kepekaan, kreativitas dan kepunahan diri (pikiran-perasaan-tubuh yang seimbang) seorang mentalist harus terpusat pada pikirannya.
Kita menggunakan cara-cara non linguistik ini untuk mengekspresikan ide-ide sebagai pendukung berbicara. Tangisan, infleksi nada, gesture, adalah cara-cara berkomunikasi yang lebih universal dari pada bahasa yang kita mengerti. Bahkan cukup universal untuk disampaikan kepada binatang sekalipun.
3. Gesture
Gesture adalah impuls (rangsangan), perasaan atau reaksi yang menimbulkan energi dari dalam diri yang selanjutnya mengalir keluar, mencapai dunia luar dalam bentuk yang bermacam-macam; ketetapan tubuh, gerak, postur dan infleksi (perubahan nada suara, bisa mungkin keluar dalam bentuk kata-kata atau bunyi).
4. Gestikulasi
Bahasa tubuh adalah media komunikasi antar manusia yang menggunakan isyarat tubuh, postur, posisi dan perangkat inderanya. Dalam media ini, kita akan memahami bahasa universal tubuh manusia dalam aksi maupun reaksi di kehidupan sehari-hari.
5. Olah Mimik
Perangkat wajah dan sekitarnya, menjadi titik sentral yang akan dilatih. Dalam olah mimik ini, kita akan memaksimalkan delikan mata, kerutan dahi, gerakan mulut, pipi, rahang, leher kepala, secara berkesinambungan.
Mimik merupakan sebuah ekspresi, dan mata merupakan pusat ekspresi. Perasaan marah, cinta, dan lain-lain akan terpancar lewat mata. Ekspresi sangatlah menentukan permainan seorang mentalist. Meskipun bermacam gerakan sudah bagus, suara telah jadi jaminan, dan diksi pun kena, akan kurang meyakinkan ketika ekspresi matanya kosong dan berimbas pada dialog yang akan kurang meyakinkan penonton, sehingga permainannya akan terasa hambar.
6. Olah Tubuh
Warming-Up atau pemanasan sebaiknya menjadi dasar dalam pelajaran olah tubuh bagi mentalist. Melatih kelenturan tubuh, memulai dari organ yang paling atas, hingga yang paling bawah. Latihan ini ditempuh untuk mencapai kesiapan secara fisik, sebelum menghadapi latihan-latihan lainnya.
Olah tubuh bisa dilakukan dengan berbagai pendekatan pada balet, namun kalau di Indonesia sangat mungkin berangkat dari pencak silat atau tari daerahnya masing-masing yang berangkat dari tradisinya dan kemudian dikembangkan pada tujuan pertunjukan mentalism.
Bowskill dalam bukunya menyatakan “Stage and Stage Craft”, yang katanya Apa yang kau lakukan dengan kedua tanganku. Pertanyaan tersebut dilanjutkannya pula dengan Apa yang harus aku lakukan dengan kedua kakiku. Banyak mentalist pemula selalu gagal dalam menampilkan segi kesempurnaan Artistik, karena pada waktu puncak klimaks selalu diserang oleh kekakuan, mengalami ketegangan urat.
Kekejangan ini memberikan pengaruh buruk pada emosi bagi mentalist yang sedang menghayati pertunjukannya, apabila hal ini menimpa organ suara maka seorang yang mampunyai suara baik menjadi parau bahkan bisa kehilangan suara, jika kekejangan itu menyerang kaki maka orang itu berjalan seakan lumpuh, jika menimpa tangannya akan menjadi kaku.
Untuk mengendurkan ketegangan urat ada bermacam cara latihan, dengan melalui latihan gerak, senam, tari-tari. Hingga gerakkan dapat tercipta dengan gerakan artistic, dan dapat lahir dari inter akting (gerakan dalam).
Olah tubuh sebaiknya dilakukan satu jam setengah setiap hari, dalam dua tahun terus menerus, untuk memperoleh mentalist yang enak dipandang mata, subjeknya: Senam irama; Tari Klasik, Main anggar, berbagai jenis latihan bernapas, latihan menempatkan suara diksi, bernyanyi, pantomim.
Labels:
Mentalism
Pada awalnya diterbitkan dalam bentuk tiga belas seri buklet kecil sebagai panduan dasar pembelajaran teknis mentalism , dan kemudian, pada tahun 1961, diterbitkan sebagai buku. Buku ini cepat menjadi terkenal dan kini dianggap sebagai buku pedoman dasar mentalism .
Isi buku menguraikan tentang berbagai teknik yang digunakan dalam mentalists untuk mencapai apa yang tampak sebagai psychic phenomena smisalnya telepathy , precognition , extra-sensory perception (ESP), telekinesis dan kemampuan untuk berkomunikasi dengan roh orang mati sebagai medium .
Buku ini memiliki informasi rinci mengenai cold reading , hot reading , konstruksi dan penggunaan perangkat seperti swami gimmick , billets , dan billet pens
Seperti hal nya buku Annemann 's Practical Mental Effects dan TA Waters' Mind, Myth and Magic , itu dianggap literatur standar untuk setiap pesulap , mentalist, atau siapa saja yang sedang mempelajari pertunjukan sulap sebagai hiburan dan menerapkan materi buku ini dalam permainan rutinnya.
Para Mentalis dunia seperti Derren Brown , Larry Becker , Lee Earle , Richard Osterlind dan Banachek menjadikan 13 Steps To Mentalism sebagai panduan dasar untuk mental ilusi yang mereka pertunjukan, seperti yang diterapkan atau di aplikasikan oleh mereka dalam setiap show, forum dan buku mereka.
Inilah buku koleksinya Bung Karno, Book Seller pada tahun 1960 an, sampai dipelajari oleh seorang pemimpin besar didunia: Bung Karno !…
Buku ini sebenarnya memiliki 367 halaman, berisi panduan rinci tentang bagaimana mengakses dan mendayagunakan “Kekuatan Alam Fikiran/Kekuatan Alam Bawah Sadar/Supraconcious”…agar dapat memiliki “Great Life”….Sehat, bahagia, berkecukupan, mampu melakukan self help/self healing, melakukan pertolongan kepada orang lain/pencerahan/konsultasi….mirip buku The Secret nya Rhonda Byrne…tapi lebih rinci petunjuknya….
Labels:
Book
Beberapa hari yang lalu, saya sempat mengintip beberapa penggalan dari buku John C. Maxwell berjudul 21 Indispensable Qualities of Leader : 21 kualitas kepemimpinan yang membuat orang lain mau mengikuti anda secara suka hati. Salah satu kualitas yang di highlight oleh John C. Maxwell adalah karakter.
Saya mencoba mendefinisikan karakter yang dimaksud disini secara sederhana : Karakter = sifat, kepribadian, gaya, style, ke-khas-an seseorang.
Mengapa karakter penting bagi seorang pesulap agar orang lain mau memperhatikan, menyimak, dan mengikuti pertunjukan seorang pesulap ? Jawaban sederhananya : karena karakter mencerminkan ke unikan seseorang. Dan suka tidak suka, manusia menyukai sesuatu yang unik.
Masalahnya adalah, sering kali seorang pesulap tanpa sadar (mungkin dalam rangka belajar, mungkin dalam rangka ter-influence) meniru karakter fisik atau karakter permainan pesulap lain secara sempurna dan tidak menunjukan karakter diri sebenarnya, pesulap menjadi kehilangan jati dirinya dan mempertunjukan sulapnya bagai bayangan pesulap yang ditirunya mentah-mentah.
Sebenarnya tidak ada yang salah dengan meniru karakter orang lain. Namun ada satu hal sederhana yang perlu diperhatikan : Coba perhatikan, semua pesulap sukses memiliki satu kesamaan, yaitu karakter yang membedakan dirinya dari pesulap lain, atau disebut Stage Personality. Mereka pasti orang yang menjadi diri sendiri dan tidak meniru karakter orang lain.
Houdini ketika pertama kali membangun reputasinya, dikenal dengan sebutan King Of Cards (Raja kartu) kemudian sebagai Handcuff King (Raja Borgol) dan sebagai The Man No Jail Can Hold (Manusia yang tak dapat dipenjara). Begitu kuatnya Houdini membangun reputasi tersebut, sehingga setelah delapan puluh tiga tahun kematiannya, masyarakat masih mengenangnya sebagai manusia yang ahli meloloskan diri atau Escapologist
Max Maven sebagai Master Mentalist dunia, David Copperfield sebagai Illusionist dengan skala besar, Siegfried & Roy Illusi dengan binatang binatang buas, Penn & Teller, Bad Boys of magic, Andre Kole sebagai magician dengan pesan pesan spiritual, , Lance Burton dengan sebutan Gentleman Magician, dan masih banyak lagi.
Masing masing dari pesulap tersebut telah menemukan karakternya atau stage personality (magic personality) yang mempengaruhi cara mereka berpakaian (kostum), cara berbicara, tipe patter yang mereka gunakan, dan yang paling penting, sulap yang mereka presentasikan.
Pilihlah stage personality berdasarkan kelebihan yang ada pada diri anda sendiri. Apakah anda seorang yang memiliki kemampuan teaterikal yang bagus, dapat mendramatisasikan keadaan, seorang pembicara yang baik, sebagai personal yang mudah berimprovisasi, atau memang sudah memiliki bakat melucu sejak kecil. Mungkin juga anda memiliki ciri khusus, seperti model rambut yang unik, badan yang atletis, masih muda. Atau bahkan memiliki saudara kembar identik.
Gunakan magic personality sebagai panduan untuk Menyeleksi trick atau efek yang akan ditampilkan, sesuaikan dengan karakter yang anda perankan. Contoh, comedy magician Tom Mullica tidak akan memainkan efek mind reading yang serius karena ia sudah membentuk karakternya sebagai comedy magician. Penonton akan kecewa bila melihat Siegfried and Roy hanya memainkan trick kartu di panggung. Lebih aneh lagi jika melihat ivan christian menghilangkan seekor macan sebelum duduk memainkan trick trick coinnya.
Kunci menemukan magic personality yang baik adalah mengembangkan semua potensi yang ada dalam diri. Tunjukan diri anda atau peran yang akan anda mainkan secara matang, jangan meniru mentah-mentah karakter dari pesulap lain, misalnya meniru David Copperfield seratus persen. Jujur pada diri sendiri, tunjukan keunikan anda dan kembangkan potensi anda.
Tidak ada trick yang jelek dalam seni sulap. Semua tergantung dari cara pesulap mempresentasikan trick tersebut. Trick yang hebat dimata penonton hanya dapat dilakukan oleh pesulap yang sudah mempersiapkan dirinya dengan matang.
Kunci sukses dalam dunia sulap, adalah menetapkan karakter. Pilih karakter anda berdasarkan kelebihan yang ada dalam diri anda dengan kualitas yang unik, seleksi efek-efek yang akan dimainkan berdasarkan karakter yang dipilih, dan tetaplah konsisten. Kesuksesan otomatis akan mengikuti....
Dalam sebuah pembicaraan santai (sambil diselingi kelakar) di sebuah cafe dengan beberapa sahabat pesulap, yang (sambil lalu) membahas tentang semaraknya komunitas sulap di negeri ini, ada seorang sahabat dengan lantang berbicara :
“Pesulap yang masih coba-coba biasanya gembar-gembor mengunggulkan permainan tricknya dan selalu ingin orang lain menganggapnya lebih hebat dari yang lain, sedang pesulap yang sudah jadi, lebih tenang menyikapi nomor-nomor pertunjukannya.....”
Lalu sahabat itu melanjutkan :
“Pembicaraan pesulap yang masih coba-coba biasanya tentang trick dan rahasia trick di barengi demontrasi trick yang memukau, sedang pesulap yang sudah jadi selalu membicarakan tentang sikap hidup dan bagaimana menciptakan peluang dari keahliannya....”
Banyak orang mengatakan bahwa sahabat yang berbicara lantang ini sudah bisa dibilang sebagai "pesulap profesional" (ini mungkin yang dimaksud sahabat tadi dengan istilah “Pesulap Yang Sudah Jadi”) karena trik-trik yang dimainkannya.
Eemmm... Mungkin itu ada benarnya. Sedikit menambahkan, jika menurut saya pesulap profesional (betul) bukanlah hanya mementingkan trik saja, namun juga aksi panggung, karakter, cara berbicara, tingkah laku dan lain sebagainya, termasuk menata managemennya secara baik.
Berikut ini (masih menurut saya lho) beberapa ciri-ciri yang harus dimiliki oleh Pesulap Profesional :
1. Memiliki Karakter yang kuat.
2. Pandai berbicara dengan baik.
3. Bertingkah laku baik.
4. Bermain sulap untuk menghibur bukan untuk pamer atau yang lainnya.
5. Menghargai pesulap lain.
6. Memiliki trik-trik hasil karya sendiri.
7. Mempunyai Aliran magic yang betul-betul dikuasai dengan baik (secara praktis dan teoritis).
Nah, itu tadi menurut saya ciri-ciri para pesulap profesional yang wajib dimiliki seorang pesulap (magician) profesional, selebihnya adalah keberanian seorang pesulap untuk mengambil keputusan dihidupi oleh sulap atau menghidupi sulap.
Berbicara masalah karakter yang kuat bagi pesulap, saya akan urun rembuk tentang itu, saya kali ini akan membahas :
“BETAPA PENTINGNYA STAGE PERSONALITY BAGI PESULAP”
Coba perhatikan, semua pesulap sukses memiliki satu kesamaan, yaitu karakter yang membedakan dirinya dari pesulap lain, atau disebut Stage Personality.
Houdini ketika pertama kali membangun reputasinya, dikenal dengan sebutan King Of Cards (Raja kartu) kemudian sebagai Handcuff King (Raja Borgol) dan sebagai The Man No Jail Can Hold (Manusia yang tak dapat dipenjara). Begitu kuatnya Houdini membangun reputasi tersebut, sehingga setelah delapan puluh tiga tahun kematiannya, masyarakat masih mengenangnya sebagai manusia yang ahli meloloskan diri atau Escapologist
David Copperfield sebagai Illusionist dengan skala besar, Siegfried & Roy Illusi dengan binatang-binatang buas, Penn & Teller, Bad Boys of magic, Andre Kole sebagai magician dengan pesan-pesan spiritual, , Lance Burton dengan sebutan Gentleman Magician, dan masih banyak lagi.
Masing-masing dari pesulap tersebut telah menemukan karakternya atau stage personality (magic personality) yang mempengaruhi cara mereka berpakaian (kostum), cara berbicara, tipe patter yang mereka gunakan, dan yang paling penting, sulap yang mereka presentasikan.
Pilihlah stage personality berdasarkan kelebihan yang ada pada diri anda sendiri. Apakah anda seorang yang memiliki kemampuan teaterikal yang bagus, dapat mendramatisasikan keadaan, seorang pembicara yang baik, sebagai personal yang mudah berimprovisasi, atau memang sudah memiliki bakat melucu sejak kecil. Mungkin juga anda memiliki ciri khusus, seperti model rambut yang unik, badan yang atletis, masih muda. Atau bahkan memiliki saudara kembar identik.
Gunakan magic personality sebagai panduan untuk menyeleksi trick atau efek yang akan ditampilkan, sesuaikan dengan karakter yang anda perankan. Contoh, comedy magician Tom Mullica tidak akan memainkan efek mind reading yang serius karena ia sudah membentuk karakternya sebagai comedy magician. Penonton akan kecewa bila melihat Siegfried and Roy hanya memainkan trick kartu di panggung. Lebih aneh lagi jika melihat ivan christian menghilangkan seekor macan sebelum duduk memainkan trick-trick coinnya.
Kunci menemukan magic personality yang baik adalah mengembangkan semua potensi yang ada dalam diri. Tunjukan diri anda atau peran yang akan anda mainkan secara matang, jangan meniru mentah-mentah karakter dari pesulap lain, misalnya meniru David Copperfield seratus persen. Jujur pada diri sendiri, tunjukan keunikan anda dan kembangkan potensi anda.
Tidak ada trick yang jelek dalam seni sulap. Semua tergantung dari cara pesulap mempresentasikan trick tersebut. Trick yang hebat dimata penonton hanya dapat dilakukan oleh pesulap yang sudah mempersiapkan dirinya dengan matang.
Kunci sukses dalam dunia sulap, adalah menetapkan karakter. Pilih karakter anda berdasarkan kelebihan yang ada dalam diri anda dengan kualitas yang unik, seleksi efek-efek yang akan dimainkan berdasarkan karakter yang dipilih, dan tetaplah konsisten. Kesuksesan otomatis akan mengikuti....
Labels:
magician
Steve Cohen menyajikan kepada pembaca apa yang mereka cari tentang pelajaran langkah demi langkah mengenai berbagai teknik presentasi dan interaksi personal yang semua pesulap ulung gunakan untuk menciptakan ilusi. Sulap itu lebih dari sekadar kecepatan tangan. Sulap sesungguhnya merupakan permainan mental kucing-dan-tikus, permainan kekuasaan antara dua pikiran. Cohen menunjukkan bagaimana psikologi dan mekanika di balik pertunjukan sulap yang menarik dapat digunakan untuk menguasai seisi ruangan, membaca pikiran orang, dan membantu mendapatkan kata "ya".
Labels:
Book
Magic And Showmanship by Henning Nelms.
Semua pesulap ternama telah mempelajari buku ini sampai tamat. Kebanyakan buku sulap memusatkan perhatian pada berbagai tehnik tipuan sulap, namun buku ini memfokuskan pada bagaimana membawakan berbagai tehnik tipuan sulap tersebut. Itulah rahasia sulap yang sesungguhnya.
Henning Nelms yang sebelumnya telah banyak memberikan kuliah-kuliah atau ceramah-ceramah pada masyarakat atau perkumpulan-perkumpulan pesulap dan menulis artikel-artikel di majalah-majalah pesulap, membuat dia diakui sebagai seorang ahli, analis setiap phase dari pesulap: Sleight, Devices, Misdirections, Patter dan penggunaan asisten yang efektif telah diuji dengan detil. Cara memperlakukan Misdirection terutama penting dan patut diperhatikan.
Buku ini berisi beragam cerita klasik yang menambah arti sulap : Jika seorang pesulap meminta anda untuk memasukan tangan anda ke dalam kantong anda dan anda menrik keluar sebuah sendwich, hal itu mungkin merupakan tipuan sulap yang bagus, setelah anda terkejut, anda mungkin hanya merasa “Terus apa lagi ?” tetapi ketika anda mengatkan pertama kali “Saya lapar” dan kemudian pesulap meminta anda memasukan tangan ke dalam kantong anda, dan anda menemukan sandwich yang sama, mungkin anda berpendapat ini merupakan keajaiban. Teknik tipuan sulap ini tiba-tiba menjadi masuk akal karena menjawab sebuah kebutuhan. Hal itu timbul dari suatu kontek situasi. Bacalah buku ini untuk memperoleh penjelasan lebih lanjut mengenai pengendalian perhatian (bab 14) dan kurva ketertarikan (bab18). Pelajaran ini berlaku untu semua orang (dengan atau tanpa tongkat sihir) yang berencana untuk memikat penonton.
Semua pesulap ternama telah mempelajari buku ini sampai tamat. Kebanyakan buku sulap memusatkan perhatian pada berbagai tehnik tipuan sulap, namun buku ini memfokuskan pada bagaimana membawakan berbagai tehnik tipuan sulap tersebut. Itulah rahasia sulap yang sesungguhnya.
Henning Nelms yang sebelumnya telah banyak memberikan kuliah-kuliah atau ceramah-ceramah pada masyarakat atau perkumpulan-perkumpulan pesulap dan menulis artikel-artikel di majalah-majalah pesulap, membuat dia diakui sebagai seorang ahli, analis setiap phase dari pesulap: Sleight, Devices, Misdirections, Patter dan penggunaan asisten yang efektif telah diuji dengan detil. Cara memperlakukan Misdirection terutama penting dan patut diperhatikan.
Buku ini berisi beragam cerita klasik yang menambah arti sulap : Jika seorang pesulap meminta anda untuk memasukan tangan anda ke dalam kantong anda dan anda menrik keluar sebuah sendwich, hal itu mungkin merupakan tipuan sulap yang bagus, setelah anda terkejut, anda mungkin hanya merasa “Terus apa lagi ?” tetapi ketika anda mengatkan pertama kali “Saya lapar” dan kemudian pesulap meminta anda memasukan tangan ke dalam kantong anda, dan anda menemukan sandwich yang sama, mungkin anda berpendapat ini merupakan keajaiban. Teknik tipuan sulap ini tiba-tiba menjadi masuk akal karena menjawab sebuah kebutuhan. Hal itu timbul dari suatu kontek situasi. Bacalah buku ini untuk memperoleh penjelasan lebih lanjut mengenai pengendalian perhatian (bab 14) dan kurva ketertarikan (bab18). Pelajaran ini berlaku untu semua orang (dengan atau tanpa tongkat sihir) yang berencana untuk memikat penonton.
Labels:
Book
Rest in Peace....
Tony Corrinda; The Author of 13 steps to Mentalism...
Tony Corinda (1931? - July 1, 2010) is an English magic dealer and businessman who is noted by magicians for having written the book Thirteen Steps To Mentalism.
Corinda's name was Thomas William Simpson. Corinda was a variation on the name Conradi.
In the 1950s and 1960s he had at least two shops in London; prior to this, Corinda had a magic studio where he sold magic tricks, mostly with a mentalist flavour for which he became best known. The Magic Shop in Tottenham Court Road was originally run by Dick Chavel, and later taken over by Corinda. This store was at street level so catered mainly to the lay public, so many of the items sold were either practical jokes or beginners' tricks, but other items and small illusions for semi-professional magicians and hobbyists were also sold over the counter.
Around the same period, Corinda had the magic concession in Hamleys Toy Shop in Regent Street. This was located in the basement of the store and was run for a period by Ali Bongo, who also demonstrated magic at the Tottenham Court Road location.
Tony Corinda died on Thursday 1st July in Norfolk.
Tony Corrinda; The Author of 13 steps to Mentalism...
Tony Corinda (1931? - July 1, 2010) is an English magic dealer and businessman who is noted by magicians for having written the book Thirteen Steps To Mentalism.
Corinda's name was Thomas William Simpson. Corinda was a variation on the name Conradi.
In the 1950s and 1960s he had at least two shops in London; prior to this, Corinda had a magic studio where he sold magic tricks, mostly with a mentalist flavour for which he became best known. The Magic Shop in Tottenham Court Road was originally run by Dick Chavel, and later taken over by Corinda. This store was at street level so catered mainly to the lay public, so many of the items sold were either practical jokes or beginners' tricks, but other items and small illusions for semi-professional magicians and hobbyists were also sold over the counter.
Around the same period, Corinda had the magic concession in Hamleys Toy Shop in Regent Street. This was located in the basement of the store and was run for a period by Ali Bongo, who also demonstrated magic at the Tottenham Court Road location.
Tony Corinda died on Thursday 1st July in Norfolk.
Labels:
magician
Subscribe to:
Posts (Atom)









